ASAL MUASAL JANGAN ASAL
Jika ada yang bertanya kenapa sih harus judul ini buku pria ½ galau? Hellooow, kemana aja kamu selama ini? Judul ini sangatlah wajar dan terkadang ekstrim banget dan mengandung filsafat, filosofi yang terkandung menjadi suatu kesatuan, waduh kacau ini mulai membicarakan hal-hal random ha ha ha, sedikit tertawa karena bingung telah menulis buku ini.
Secara harfiah novel ini ditulis oleh seorang pria yang mengaku lagi galau karena berbagai problematika rumus minus plus min akar b kuadrat min 4 ac per 2 a nah makin gak nyambung ke asal muasal.
Banyak banget pria ½ galau yang bertebaran diseluruh dunia, tapi kali ini dipersempit aja dulu deh, capek juga membahas semua pria ½ galau yang tersebar didunia. Mending membahas seputar yang ada disekitar kita aja. Contohnya siapa yoook? Mmm,preeet ah saya tau pasti saya yang anda maksud(sambil liat cermin melihat keindahan wajah sendiri hueeekkk).
Pria ½ galau wah parah ini judul, tapi lebih parah lagi bagi kamu hai para pembaca yang tidak memahami makna dari Hastag #Galau. So What the meaning about Galau? (Garuk-garuk kepala padahal gak gatel ciiin).
#Galau udah jadi trending topic dunia mameeen ^_^ bahkan ada orang diluar sana yang mungkin menamakan bayi pertamanya dengan nama Abdul Galau wow something new kan. Banyak persepsi dan singkatan dari bukan sekedar hanya kata #Galau (Bingung kan tiap ada kata galau selalu dibubuhi depan dengan tanda # mungkin penulis lagi Twitteran wakakacaauuu)
Nah buat kamu-kamu pembaca yang nanya apa itu galau, mari kita bersama-sama dan secara berjamaan bilang gini “Tolongin kita dong mbah Google” dan pastinya banyak banget link galau yang bakal keluar.
Galau itu (Gelisah antara lanjut atau udahan), Galau itu (Gak Laku Ampe Tua) wah banyak banget artinya galau tapi adakah yang pasti dari makna galau, dan apakah galau bisa jadi subjek atau bahkan objek ilmiah yang perlu dilakukan penelitian secara menyeluruh dari akar sampai ke ujung dahan serta daun-daun keGalauan (nie lagi ngomongin pohon ya)
Sampai saat ini pun para ahli serta pakar Galau lagi menyusun Strategi RPG (Role Playing Galau) untuk menemukan formulasi galau yang bisa dimengerti oleh umat manusia dimuka bumi (sampai segitunya deh).
Oke deh Galau itu adalah…
??????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????? sebuah tanda Tanya wah misteri nih, jiwa detektif fiktif penulis bergejolak liar menantang tiap pasang mata pembaca dari buku pria ½ galau. So what are u waiting for go for next page please dong ah… ^_^
Bisa dibilang galau itu udah kayak bumbu dapur, maka mamah aku pun berkata “Gak enak makan sayur tanpa garam”, tapi yang aku rasa sih mamah aku kebanyakan masukin garam tadi pas masak sayur bening jadinya aku keasinan deh hihihi. Iya sama halnya dengan hidup kita sebagai manusia sekarang ini, gak hidup kalau kamu gak pernah galau.
Bagaimana tidak bahwasanya fenomena galau itu terlihat jelas dimasyarakat pada umumnya. Kamu liat aja di televisi dewasa ini banyak banget tayangan yang mengandung unsur galau tak bertepi. Sinema Elektronik a.k.a Sinetron kerap kali jadi biang kerok keGalauan masyarakat kita yang memang dari tahun 98 udah galau setelah Krismon (krisis moneter). Liat aja tuh para remaja ababil (anak baru dan labil) main sinetron judulnya aja lucu-lucu seperti cinta cenat-cenut, cintaku tertinggal diangkot, mas satpam ganteng sekali dll dsb deh.
Judul sinetron sih eye catching banget namun isinya yang lagi-lagi ada materi galau, dan parahnya itu terbroadcast keseluruh penjuru negeri Indonesia bahkan kalau udah diupload di Youtube mungkin global galau dunia bakal watching. Sinetron-sinetron yang ada di TV sekarang doyan memakai tenaga galau ABG (Anak baru Gede), Entah peran yang mereka mainkan bagus atau tidak, mungkin Cuma modal tampang cute and handsome aja ya ditonjolkan serta efek bias dari sinetron para ABG yang mengenakan baju Putih Biru, Putih Abu-abu, itu ABG ngpaen juga tiap hari aku nonton pasti kisahnya gak ada belajarnya. Kalau gak ngeBully (mempermainkan, mengejek, berkelahi) sama teman yah paling cinta-cintaan trus putus-putusan trus jadi-jadian trus galau deh jadinya.
Aku juga heran ama Film-film Indonesia khususnya film Horror ya, bukan karena film horror itu makin serem tapi aku rasa sisi gelap dari film Horror Indonesia itu dimana? Emang sih aku yakin Sutradara pengennya bikin film yang ngejual biar bisa balik modal cepat. Tapi apakah harus mengorbankan isi cerita yang seharusnya horror jadi komedi dan terkadang terlalu seksi, glekkk aku selalu menahan ketegangan tiap nonton film horror Indonesia, bukan tegang liat hantunya, tapi tegang 1000watt didaerah layak sensor karena melihat pemeran cewek itu tuh yang tiap pakai baju pasti kainnya kurang, sexy gila deh. Mungkinkah sutradara film Horror lagi Galau karena takut filmnya tidak laku makanya memberi bumbu seksi kedapur pacu film Horror, I don’t know why.
Gak cuma Sinetron dan Film yang mengajarkan nilai-nilai kegalauan, tapi terkadang kehidupan pribadi kita sebagai seorang Kakek, Nenek, Ayah, Ibu, Kakak, Adik, Keponakan, Sepupu, bahkan tetangga itu pasti pernah Galau. Kalau aku mengerti semua bahasa aku pasti tau bahwa Gak Cuma manusia yang galau, tapi juga tumbuhan, binatang, gunung, langit, bintang, bulan dan matahari pun kalau bisa berkata sesuatu pasti ada rasa galau (Hiperbola=suka melebih-lebihkan sesuatu).
Coba bayangkan jika seorang guru galau dalam menjelaskan pelajaran, terlebih lagi dia seorang guru Matematika, nah jikalau galau apa yang terjadi? Pastinya konsentrasi guru terpecah. Bisa jadi sang Guru ada masalah keuangan, gara-gara istri dirumah minta jatah belanja bulanan, maklum harga-harga pada merangkak naik. Alhasil guru tersebut kurang cerdas dalam menjelaskan rumus-rumus yang telah ditulis dipapan tulis. Sedangkan kita tahu bahwa Matematika adalah ilmu pasti, kita bisa bilang bahwa 1+1=2 dan tidak akan mungkin bahwa 1+1=galau.
Belum lagi tingkatan Mahasiswa yang galau gara-gara tidak bisa mengerjakan satu poin penting apabila pengen ke tingkatan lulus a.k.a wisuda yaitu skripsi. Skripsi disebut-sebut bagi sebagian besar mahasiswa adalah penyakit galau yang menggerogoti diri apabila dibiarkan berlarut-larut jadinya bakal bikin mahasiswa tersebut menjadi abadi nan jaya dikampus wkwkwk (seperti saya mungkin ya).
Kata orang sekarang zaman edan, aku bilang sih sekarang zaman galau. Aku gak mau membahas galaunya politik negeri ini beserta kasus-kasus korupsinya. Mending membahas galau yang global namun simple. Dewasa ini sangatlah mudah jika pengen membeli kendaraan baru, kan sekarang udah tumbuh menjamur tuh kantor-kantor finance yang bisa memberikan fasilitas kredit Kendaraan bermotor bagi yang tidak mampu beli cash. Dan alhasil hal ini bikin para sopir angkot galau, kenapa galau? Ya itu tadi saking mudahnya sekarang masyarakat mendapatkan pinjaman uang buat kredit kendaraan bermotor beroda dua cuma dengan modal fotocopy KTP, surat keluarga, slip gaji, slip tagihan listrik/air, dan yang pasti tidak mengontrak rumah alias punya rumah sendiri bakal lebih dipercaya dan dipercepat untuk mendapat fasilitas kredit. Nah inilah yang bikin sopir angkot galau, gara-gara liat anak-anak muda atau bahkan ibu-ibu yang dulu biasanya jadi langganan naik kendaraan beroda empat murah meriah malah beralih ke kendaraan kredit bulanan.
Pokoknya bisa dibilang fenomena galau udah kayak penyakit kanker paru-paru yang menggerogoti setiap aspek kehidupan masyarakat Indonesia bahkan mungkin dunia, bisa jadi ada bule diluar sana yang lagi galau namun karena jarak yang memisahkan kita dan perbedaan bahasa yang membuat kita tak tau itu bule pada ngapain ngupila kali ya (bertanya dalam hati).
Problematika Galau
Galau tidak bisa dihitung secara matematis, tidak ada rumusan galau terkini yang dapat memecahkan kenapa manusia bisa menjadi galau. Galau juga seperti ungkapan bahwa Galau datang tak dijemput pulang jalan sendiri (naek kendaraan pribadi atau umum jauh dekat tarif sama). Galau tak hanya melanda individu namun juga berjamaah.
Seseorang bisa dilihat galau secara tingkah laku serta ucapan, dan orang yang lagi galau akan cenderung menyendiri mencari tempat sepi entah itu ditepi pantai tak berpenghuni, atau dipinggir jurang, dipondok kosong dan bahkan mengunci kamar sambil bermandikan kegelapan (karena mati lampu). Ada juga seorang galau akan memilih untuk menjadi virus dan menjangkiti keluarganya sendiri dengan kegalauan yang melanda dirinya makanya ada yang namanya keluarga galau (jadi ingat keluarga cemara itu tuh tontonan jadul punya). Gak mau galau sendirian makanya pengen orang lain juga merasakan kegalauan yang sama dengan dirinya.
Seseorang yang galau dapat didengar melalui intonasi suara yang agak diberat-beratkan, kadang merintih, n overtone bass bahkan somber untuk memberitahukan kehadiran galau yang melanda. Ucapan galaupun kadang tertuang penuh haru dari bibir penderita galau.
Pengalaman Galau Sang Penulis
Bakal panjang kalau ngomogin pengalaman galau seluruh ummat manusia dimuka bumi, maka dari itu diambil contoh penulis aja yah yang jadi kelinci percobaan galau buat dishare keseluruh pembaca sekalian. Mungkin cerita dan pengalaman ini sangat otentik namun ada hal-hal yang sengaja dilebay-lebaykan atau bahkan disembunyikan guna melindungi image penulis hehehe jaim dikit gak apa donk ya.
Oke perjalanan galau penulis mulai saat penulis masih duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah Negeri yang terletak di Jl. Biola Samarinda. Sebut saja nama penulis adalah irfan maulana seorang anak lugu masih berusia muda banget belum ngerti apa-apa. Eit’s sorry masa-masa SD saya skip karena udah lupa masa-masa itu. Jadi lanjut sewaktu umur masih belasan, seingat saya masih 14 tahun dan saat itu tahun kedua di MTS, penulis merasakan suatu gejolak yang luar biasa pada saat berpapasan dengan gadis yang masih cilik, maklum masih MTS. Gejolak inipun semakin menggelora saat kedua kalinya melihat wajahnya yang cantik. Entah kenapa rasa hati ingin selalu memandang itu wajah sang gadis, namun belum diketahui namanya siapa, sebuah tanda Tanya besar muncul dibenak.

No comments:
Post a Comment